Penjelasan Kenapa Relawan Vaksin Pfizer Meninggal Dunia

Pfizer Mengakhiri Uji Coba Vaksin COVID-19 Dengan Keberhasilan 95% |  SuaraRiau.co

Vaksin Pfizer sebagai salah satu senjata mengalahkan virus corona dikarbarkan telah  ‘memakan korban jiwa’. Inggris mencatat ada laporan 2 warganya menunjukkan reaksi alergi terhadap vaksin Pfizer untuk virus Corona.

Warga Inggris yang merupakan tenaga medis itu menerima suntikan vaksin Pfizer pada Selasa (8/12/2020). Keduanya dirawat setelah mendapat suntikan vaksin Corona dari Pfizer.

Dikutip BBC, kondisi kesehatan kedua tenaga medis itu kini sudah membaik. Kepala National Health Service (NHS), Professor Stephen Powis memastikan hal itu.

Dua tenaga medis itu diketahui memiliki riwayat alergi. Akibatnya keduanya mengalami gejala reaksi anafilaksis yang umumnya memicu ruam kulit, sulit bernapas, hingga turunnya tensi darah.

Dikabarkan juga ada 6 orang meninggal selama uji coba tahap akhir vaksin Pfizer-BioNTech COVID-19, seperti dikutip Reuters.

Namun dari 6 orang yang meninggal selama uji coba vaksin Pfizer-BioNTech, hanya 2 dari mereka yang diberi vaksin.

Sementara 4 orang lainnya diberi larutan garam dan air plasebo yang aman. Tidak ada hubungan kausal yang ditemukan antara vaksin dan kedua kematian tersebut.

 

Fenomena Vaksin Memakan Korban Jiwa

Kasus kematian yang terjadi dinilai sejalan dengan angka kematian normal untuk populasi umum.

Terdapat juga 4 kasus Bell’s Palsy (kelumpuhan wajah sebagian), tetapi tidak dianggap disebabkan oleh vaksin.

Pihak berwenang menyatakan gejala tersebut akan diawasi saat vaksin untuk COVID-19 didistribusikan.

Karena itu, otoritas kesehatan Inggris mengimbau, orang yang memiliki alergi terhadap obat dan makanan atau anafilaksis dilarang disuntik vaksin Pfizer.

Dosis kedua tidak boleh diberikan kepada siapa pun yang telah mengalami anafilaksis setelah pemberian dosis pertama vaksin ini.

Di sisi lain, FDA atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat mengungkapkan efek samping sementara dari vaksin Pfizer-BioNTech umum terjadi.

Artinya tidak ada masalah keamanan spesifik yang diidentifikasi yang akan menghalangi penerbitan izin penggunaan darurat.

FDA pun pada hari Kamis (10/12/2020), merekomendasikan penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) vaksin COVID-19 buatan Pfizer-BioNTech.

Amerika Serikat (AS) dan Kanada akan menjadi negara berikutnya setelah Inggris yang menjalankan program resmi vaksinasi massal dengan vaksin COVID-19 Pfizer.

Sementara Inggris pada pekan ini sudah memberi suntikan vaksin Pfizer usai mendapat EUA dari Medicines and Healthcare Products Regulatory Agency (MHRA).

Tentunya negara lain juga tak ingin kalah dengan terus berusaha menyempurnakan temuan obat/ vaksin mereka.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *