5 Fakta Mencekam dibalik Demo UU Cipta Kerja di Jakarta

Aksi puncak demonstrasi penolakan UU Cipta Kerja pada Kamis, 8 Oktober 2020 diwarnai berbagai aksi ricuh.

Dimulai sejak tanggal 5 Oktober 2020, awalnya demonstrasi berjalan damai. Namun situasi makin memanas hingga terjadi banyak peristiwa mencekam di Jakarta.

Tak hanya tembakan gas air mata, petasan, batu saja, namun aksi demonstrasi juga disertai peristiwa pengrusakan, pembakaran fasilitas public, hingga terjadi penculikan jurnalis

Berikut rangkuman peristiwa paling mencekam sepanjang aksi demo UU Cipta Kerja di Jakarta yang dapat kami rangkum untuk anda

 

Rangkaian Peristiwa Demo UU Cipta Kerja Jakarta 

5 Fakta Mencekam dibalik Demo UU Cipta Kerja di Jakarta

  1. Pembakaran Halte Bus Transjakarta

Banyak berita di televisi yang menunjukkan kondisi halte bus Transjakarta di Bundaran HI yang terbakar api besar.

Namun berdasarkan informasi dari Pemprov DKI Jakarta yang langsung disampaikan oleh Gubernur Anies Baswedan, total terdapat 11 Halte TransJakarta yang terbakar hingga 08 Oktober 2020.

Pembakaran tersebut adalah buntut dari  ricuh aksi unjuk rasa menolak Omnibus Law Cipta Kerja.

Diperkirakan biaya untuk memperbaiki fasilitas yang dirusak massa sebanyak Rp 25 miliar.

5 Fakta Mencekam dibalik Demo UU Cipta Kerja di Jakarta

  1. Pembakaran Alat Berat Proyek MRT

Satu alat berat mini eskavator proyek MRT Jakarta Fase 2 dibakar massa selesai bentrok antara demonstran dengan polisi terkait disahkannya UU Cipta Kerja, kawasan Sarinah, Jakarta, Kamis (8/10/2020)

Tak hanya membakar halte bus Transjakarta saja, massa juga menjadikan alat berat proyek MRT di Kawasan Sarinah sebagai sasaran.

Alat berat tampak dibakar oleh massa unjuk rasa demo tolak UU Omnibus Law. Sementara pagar pembangunan proyek juga turut dirobohkan

  1. Pembakaran di Patung Kuda

Sementara aksi di Kawasan Patung Kuda Jakarta Pusat juga diwarnai kericuhan. Banyak fasilitas disekitar Kawasan yang dibakar.

Massa juga melakukan baku hantam dengan aparat polisi, lemparan batu dan tembakan gas air mata mewarnai aksi demo tolak UU Cipta Kerja.

Aksi tersebut membuat suasana di sekitar Gedung perkantoran pemerintahan tampak mencekam.

Aksi terus memanas saat mahasiswa dan pelajar mencoba menerobos barikade kawat berduri.

Akan tetapi, aksi berhasil didinginkan oleh perwakilan dari peserta aksi yang member komando untuk mundur.

Namun massa masih berkumpul di ring 1 dan terus meneriakkan yel-yel serta makian untuk anggota DPR sebagai bentuk kekecewaan dan kemarahan.

“DPR goblok, DPR goblok, DPR goblok,” teriak massa.

Selain mahasiswa, pelajar dan buruh, anggota polisi juga tampak berjaga dengan atribut lengkap.

Tak lupa ada baraccuda dan water cannon yang terparkir di sekitar kerumunan.

5 Fakta Mencekam dibalik Demo UU Cipta Kerja di Jakarta

  1. Mobil dan Bangunan di Kementerian ESDM Rusak

Suasana mencekam juga tampak mewarnai Gedung perkantoran kementerian ESDM yang menjadi sasaran amukan massa.

Terdapat lebih dari 8 mobil yang terparkir di lingkungan kementerian ringsek di rusak peserta aksi.

Tak hanya mobil, bangunan Gedung pun turut hancur terkena lemparan batu.

Massa berhasil masuk ke lingkungan Gedung Kementerian setelah memanjat pagar yang tidak terlalu tinggi dan hanya dijaga oleh petugas Satpam.

Aksi penjarahan juga terjadi dengan hilangnya laptop, handphone dan computer di lobi Gedung Kementerian.

5 Fakta Mencekam dibalik Demo UU Cipta Kerja di Jakarta

  1. Belasan Jurnalis Hilang

Polisi berpakaian lengkap dengan membawa tameng dan senjata gas air mata melakukan penyisiran terhadap demonstran yang masih berkerumum di sekitar Tugu Tani, Jakarta Pusat, Kamis (8/10/2020) malam. [Suara.com/Welly Hidayat]

Aksi yang terjadi dibeberapa titik kumpul di Jakarta hingga Kamis 8 Oktober 2020 juga melibatkan banyak jurnalis untuk meliput.

Akan tetapi, hingga dini hari, belasan jurnalis dinyatakan hilang dan tak bisa dihubungi lagi. Beberapa perangkat kerja milik jurnalis juga dirampas oleh oknum anggota polisi.

Pengacara LBH Pers Ahmad Fathanah menyebutkan bahwa ada 18 orang jurnalis yang dinyatakan hilang.

Ke-17 di antaranya merupakan jurnalis dari berbagai Pers Mahasiswa atau Persma.

Sedangkan, satunya merupakan jurnalis media online Merahputih.com atas nama Ponco Sulaksono.

“Persma kurang lebih 17 orang,” kata Ahmad di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis malam.

Selain itu, sejumlah perangkat kerja milik jurnalis juga dilaporkan dirampas oleh oknum anggota polisi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *